Ruang dan Waktu. Keduanya adalah sesuatu yang kasat mata. Sebuah konsepsi atas suatu keberadaan yang tak bisa kita sentuh namun bisa dirasakan.
Beberapa hari terakhir ini saya menemukan tempat baru sebagai alternatif untuk menghabiskan malam. Sebuah kedai kopi sederhana dengan aksen klasik yang mengingatkan rumah nenek di Semarang. Kedai ini terletak di bawah sebuah jembatan rel kereta api, meskipun demikian suara derak gerobak besi itu tak mengganggu kenyamanan di dalamnya. Sekilas tempat ini “tersembunyi” dari deretan bangunan lainnya, maka tak heran saat malam hari nyaris kosong alias sepi.
Dan di tempat inilah saya menikmati ruang dan waktu.
Melalui sajian kopi-nya yang lezat dan murah (termasuk murah untuk rasa dan tempat yang oke), kedai itu membawa rileks pengunjungnya, dan tentu saja ditemani dengan senandung musik jazz ala kedai-kedai kopi. Saat itulah saya berpikir kalau apa yang dijual oleh kedai tersebut bukan saja makanan dan minumannya, namun juga ruang dan waktu.

Salah satu sudut ruangan dengan meja dan kursi klasik
Pernah suatu saat saya membaca sebuah studi kelayakan bisnis untuk usaha kafe kopi. Didalamnya terdapat analisis biaya dan lain-lainnya. Ternyata untuk memproduksi segelas kopi (entah itu espresso, cappuccino, atau coffee blend lainnya) hanya membutuhkan biaya sekitar Rp3,000 – 5,000. Padahal kopi tersebut dijual dengan harga 4 – 6 kalinya. Hal ini membuat bisnis ini memiliki margin yang cukup tinggi.
Rupanya dari harga segelas kopi tersebut terdapat biaya untuk menjual ruang dan waktu. Ya, kedua hal tersebut yang “gaib” tidak memiliki standar harga yang baku. Karena wujudnya yang tak kasat mata, maka dihargai secara relatif.

Rak yang berisi produk-produk luar negeri jadul
Di dunia yang semakin cepat berputar dan langkah Ibukota yang selalu riuh dan sibuk, rasanya dua komoditas ini akan memiliki prospek usaha yang cukup baik. Terlebih ruang kota yang semakin sesak serta jam kerja yang terus bertambah, ruang dan waktu akan menjadi sesuatu yang langka bagi warga Ibukota.
- Galdor Sindanarie
NB. Walaupun demikian saya tetap merindukan es kopi di Gertub